• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Penggiat Pendidikan dari Kaki Bukit Kolelega

img

1.jpg

Sejak berdirinya Yayasan Al-Huda 5 April 1999, perkembangan dunia pendidikan di kawasan kaki Bukit Kolelega, tepatnya di Kampung Cihanja Desa Caringin Kecamatan Karangtengah, nampak perkembangannya akan membikin siapapun terperengah. Hal itu bisa dibuktikannya, jika suatu saat kita berkunjung ke lokasi terebut, secara kasat mata bisa melihat megahnya bangunan sarana peribadatan, pontren modern, dan sejumlah bangunan sekolah formil berbasis Islam Terpadu (IT) dengan suasananya yang asri. Tentunya kemajuan dalam bidang pendidikan di wilayah tersebut, tak terlepas dari perjuangan dan pengorbanan yang diiringi dengan ketulusan hati H.E. Sucherman, Dipl., sebagai penggiat pendidikan di kampung tersebut.

Di sana, di areal tanah seluas 5 hektar, selain kita bisa melihat megahnya Pontren modern Al-Huda, Mesjid Jami Faftahul-Anwar, dan Sekretariat LM3, juga ada bangunan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah, dan sekolah berbasis Islam Terpadu, yaitu Pendidikan Anak Usia Dini Islam Terpadu (PAUD IT), TK, SD IT, SMP IT, dan SMK.

Ternyata bangunan-bangunan megah demi kemajuan dunia pendidikan di kaki Bukit Kolelega itu, dibangun atas ketulusan hati H.E. Sucherman, Dipl. Ia dengan ikhlas membangun sarana pendidikan dari pesangon dan tunjangan pensiun pribadinya (sebagai Kepala Bidang Kesejahteraan dan Ajudan Dirut PT. Telkom), serta partisipasi para putranya demi menumbuh kembangkan pendidikan di kampong halamannya yang terpencil itu.

Menurut H.E.Sucherman, salahsatu yang menjadi tujuan pokok pendirian sarana dan prasarana sekolah di kampung halamannya, adalah untuk meneruskan jejak ayah handanya sebagai pendiri pondok pesantren, demi mengentaskan kebodohan, buta huruf, dan mencetak generasi muda supaya pintar seiring dengan kemajuan jaman.

“Harapan saya dengan adanya sarana dan prasarana itu, jangan sampai masa lalu saya teralami oleh generasi muda yang ada di kampung halamanku. Dulu, disaat saya menimba ilmu di sekolah dasar, waktu itu harus berjalan kaki menempuh perjalanan berkilo-kilometer melalui perbukitan. Akan tetapi saya tak mengenal lelah terus semangat belajar, meskipun situasi dan kondisinya darurat penuh keprihatinan,” ungkapnya.

Masih teringat, ujar H.E. Sucherman, waktu itu sekitar tahun 1950-an termasuk kondisinya begitu darurat. Ia bersama orangtuanya dan sejumlah masyarakat selalu berpindah-pindah tempat (ngungsi). Namun ia tak patah semangat terus menimba ilmu di sekolah dasar. “Saya berangkat ke sekolah dari tempat kelahiran (Kampung Cihanja Desa Caringin) dengan berjalan kaki sejauh 2,5 km menuju bangunan sekolah darurat di wilayah Kecamatan Sukawening. Begitu juga sewaktu mengungsi ke Kampung Cikulahan (masih di lokasi Desa Caringin), Saya tetap sekolah dengan semangat untuk meraih cita-cita, ingin menumbuh kembangkan dunia pendidikan di tempat kelahiranku,” tuturnya.

Kepedihan perjalanannya sewaktu menimba ilmu di masa lalu, tetap dikenangnya tak pernah terlupakan oleh H.E.Sucherman. Masa silam itu selalu mengetuk hati nuraninya untuk menumbuhkan keinginan yang mulia, yakni ingin mencetak peserta didik di sekolah formil dan santri-santri di Pondok Pesantren Yayasan Al-Huda dengan mendirikan sekolah Islam Terpadu supaya benar-benar mencerminkan kepribadian yang religiusitas.

Maka dari itu setelah pensiun, niatan baik H.E.Sucherman direalisasikannya dengan membangun sarana peribadatan, Pontren Modern, dan sekolah-sekolah formil berbasis Islam terpadu di kawasan kaki Gunung Kolelega yang berlokasi di Kampung Cihanja tempat kelahirannya. Kecuali, bangunan dua lokal kelas SMK dari bantuan pemerintah. Akan tetapi, ia tetap tak lepas memberikan sumbangsihnya agar kualitas bangunan SMK itu lebih baik.

“Yang penting, dalam segala perjuangan itu, kita perlu keikhlasan. Karena berjuang tanpa pengorbanan tidak akan ada apa-apanya apabila tidak diiringi dengan keikhlasan,” pungkas tokoh penggiat pendidikan dari kaki bukit Kolelega yang kini telah meninggal dunia.(DM). 

© Copyright 2024 - Media Online Supergatra.com Suara Pembaharuan Garut Utara
Added Successfully

Type above and press Enter to search.