Memory Strawberry di Desa Barudua

Di wilayah Desa Barudua, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut Jawa Barat, yang pertama mengawali budidaya strawberry adalah seorang pengusaha bernama Supardi. Ia membudidayakan jenis tanaman tersebut di blok Pangkalan sekitar tahun 1998. Selanjutnya berkat berkembang pesatnya perusahaan itu, serta banyak meperkerjakan masyarakat setempat dan sekitarnya, akhirnya terkenal dengan sebutan kelompok SPR. Bahkan karena kesuksesannya Supardi membudidayakan strawberry, tak lama kemudian para petani konvensional di wilayah desa tersebut tergugah jiwanya dan beralihlah menjadi pelaku tani strawberry hingga Desa Barudua terkenal dengan Desa Dollar Strawberry. Sayangnya karena adanya Kejadian Luar Biasa (KLB), kini masa keemasan budi daya Strawberry di desa ini hanya tinggal memory, alias tinggal kenangan.
Waktu itu seiring dengan Kemajuan kelompok SPR, terhitung dari tahun 2008-2010, mulailah gebyar budidya strawberry yang dilakukan oleh masyarakat petani Desa Barudua. Bahkan hingga tahun 2015 para pelaku tani di desa tersebut beralih membudidayakan tanaman strawberry. Mereka kebanyakan membudidayakannya di lokasi blok Bakom.
Jenis tanaman strawberry yang dibudidayakan di lokasi blok Bakom Desa Barudua Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut, adalah jenis holibert strawberry. Jenis buah strawberry ini benar-benar laku dipasaran. Kualitas buah dan rasanya tidak kalah bersaing dengan jenis strawberry yang telah tersebar dari Sabang sampai Meroke. Sehingga banyak permintaan pasar yang tidak terlayaninya.
Di wilayah desa ini total panen strawberry dari para petani setiap harinya sebanyak 17 ton. Standar harganya per kg dari para petani kisarannya antara 13 – 15 ribu rupiah. Apabila harga standarnya 15.000 rupiah dikali 17 ton, uang yang bergulir di desa tersebut setiap harinya sebesar 255 juta rupiah. Maka rata-rata uang yang bergulir di Desa Barudua setiap bulannya senilai 7 miliyar 650 juta rupiah.
Dengan demikian kesuksesan para petani strawberry di Desa Barudua, bukan hanya terkenal di Kabupaten Garut saja, melainkan sampai keluar Pulau Jawa. Bahkan, bagi mereka yang kagum akan bergulirnya ratusan juta rupiah per harinya dari budidaya tanaman itu menjuluki Desa Barudua dengan sebutan Desa Dollar Strawberry.
Mengacu kepada hal tersebut, Kades Barudua periode 2015-2021, Endang Yana menjelaskan, sesungguhnya ada beberapa faktor yang menunjang kesuksesan Desa Barudua dalam membudidayakan strawberry. Diantaranya berdasarkan letak topografi, Desa Barudua berada di lereng pegunungan Galunggung, dengan ketinggian di atas permukaan laut 800 – 1200 m dpl. Apalagi keadaan wilayah dan faktor alamnya sangat menunjang sekali, ditambah besik masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Otomatis jalan kesuksesan dalam agrobisnis budidaya strawberry bukan fatamorgana lagi, atau hanya sekedar wacana saja.
“Tentunya, bukan hanya sebatas faktor alam yang mendukung dalam budidaya strawberry. Namun, harus ditunjang oleh pasar pendistribusian strawberry-nya. Maka pada tahun 2005, sambil membudidayakan strawberry di areal seluas 5 hektar, saya melakukan survey pasar. Ternyata ada peluang permintaan pasar yang luar biasa, diantaranya Jakarta dan Surabaya,” kata Endang.
Selanjutnya Endang menuturkan, pada periode 2008–2010, kami sosialisasikan pembudidayaan strawberry kepada masyarakat. Hasil panennya langsung bisa dijual langsung via para pengepul. “Termasuk pengepul strawberry bernama Pelayan Citra Tani, atau PLCT, yang dikelola oleh saya,” ucap Kades Barudua.
Saat itulah, ujarnya, budidaya strawberry di wilayah Desa Barudua menjadi gebyar. Masyarakat tani pun banyak yang beralih menjadi petani strawberry. Soalnya dengan jangka waktu 2 bulan, para petani bisa panen setiap hari. Bahkan, jika tanaman strawberry itu benar-benar dirawatnya, maka selama 3 tahun, para petani setiap harinya terus menurus panen raya.
“Misalnya, dari 4000 pohon strawberry pada lahan garapan seluas 40 area, atau 4000 m², para petani bisa memanen strawberry per harinya minimal 15 – 20 kg dengan meraup uang sebesar 195.000 hingga 260.000 rupiah per hari. Apalagi adanya over produksi buah strawberry, setiap harinya bisa mencapai 30 – 40 kg,” ungkap Kades Barudua.
Alhamdulillah, ujarnya, dengan berkembangnya budidaya strawberry di Desa Barudua, sebanyak 2000 orang telah teropang perekonomiannya. Sehingga ketahanan pangan masing-masing keluarga, tak riskan lagi dengan istilah dapur tak ngebul.
“Namun sayang, semenjak adanya Kejadian Luar Biasa, atau KLB menimpa tanaman strawberry yang terjadi pada Februari tahun 2015, Desa Barudua yang terkenal dengan sebutan Desa Dollar Strawberry, kini hanya tinggal kenangan, seperti ketika para petani strawberry berjaya, hanya dengan buah strawberry BS saja, kami bisa membangun jalan hotmix dari gerbang jalan desa hingga ke areal pertanian wilayah Bakom, sejauh 2 km dengan lebar 2.3 m,” pungkasnya.
Tanaman Strawbery Mati Mengenaskan
Ribuan Orang Kehilangan Pekerjaan
Setiap bulannya uang dari komoditi budidaya tanaman strawberry di wilayah Desa Barudua Kecamatan Malangbong, minimal per harinya tak kurang dari Rp 221000.000.00 (dua ratus dua puluh satu juta rupiah). Kadang kala bisa mencpai 7 milyar 650 juta rupiah per bulannya, jika harga strawberry itu mencapai 15 ribu rupiah per kilogramnya. Sehingga ribuan pekerja pun, baik warga setempat maupun dari luar desa, merasa tertolong kehidupannya.
Sayangnya, saat ini tanaman strawberry yang menjadi andalan sebagai matapencaharian masyarakat tiba-tiba mati menggenaskan. Realita itu mengakibatkan ribuan orang kehilangan pekerjaan. Soalnya tanaman strawberry yang menjadi tumpuan hidup masyarakat di wilayah Desa Barudua, terkena Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagian besar tanaman tersebut hanya dengan waktu semalam mati menggenaskan.
“Keadaan tanaman strawberry yang langsung mati mengenaskan, seperti tanaman yang tersiram air panas, terlihat layu dan langsung mengering. Meskipun telah diupayakannya dengan diganti oleh tanaman baru. Namun tetap saja hanya dengan jarak satu malam, langsung mati. Bahkan para akhli tanaman strawberry dari SPR pun, belum menemukan cara untuk menanggulanginya,” kata Bah Jalil, pelaku tani yang sekaligus menjadi pengepul bernama Pengepul Biobery.
Padahal, ujar Jalil, sebelum awal tahun 2015 sudah ada gejala-gejala kematian tanaman strawberry. Daun, batang, sampai keakarnya mengering bagaikan disiram air mendidih. Namun,. para pelaku tani tidak menghiraukannya. Karena hanya menyerang satu atau dua tanaman strawberry saja.
Ternyata, kata Jalil, kematian strawberry seperti itu malah memuncak pada Februari tahun 2015 Sebagian besar tanaman yang menjadi andalan mata pencaharian untuk ketahan pangan, masyarakat setempat dan warga di luar desa, mati secara mendadak. Saat itu tanaman strawberry nyaris punah. Sehingga kades Barudua menyebutnya atas peristiwa tersebut dengan Kejadian Luar Biasa (KLB).
“KLB tersebut, bukan hanya menimpa ribuan orang kehilangan pekerjaan, dan ratusan pedagang tak bisa berjualan, namun menimpa 36 pengepul, seperti Pengepul SPR, PLCT, dan Biobery sebagai tulang punggung perekonomian yang menjalankan distribusi strawberry. Saat ini para pengepul itu sudah gulung tikar. “Oleh karena itu, saya atas nama masyarakat Desa Barudua, mengharapkan, Pemkab Garut harus menjadi malaikat penolong,” sambung Kades Barudua, Endang Yana.
Pasalnya, ungkap Endang, sebelum tanaman strawberry terkena penyakit yang mematikan, salahsatunya pengepul SPR yang terbesar di Wilayah Desa Barudua, setiap harinya mebeli tonan dari para petani, per satu hari belanja. Kini saat tanaman tersebut dilanda penyakit aneh yang mematikan. Akibatnya para pengepul dan para pekerja mengalami kerugian sungguh menyedihkan.
“Diantaranya, Pengepul PLCT milik saya, biasanya per dua minggu selalu mengeluarkan uang 180 hingga 200 juta rupiah untuk biaya membayar mitra kerja, para pekerja pemelihara tanaman, pemupukan, pengepakan, dan pembelian hingga ke pendistribusian komoditi, Namun pada saat KLB melanda tanaman strawberry, Plct hanya mengeluarkan uang cuma 50 juta rupiah per dua minggu. Lebih tragisnya, akibat KLB itu, akhirnya sampai saat ini mematikan semua yang terlibat dalam budidaya tanaman strawberry,” ungkap Kades barudua.
Apalagi pengepul Biobery bersekala kecil milik Bah Jalil, yang berjalan sejak tahun 2008, sebelum KLB perharinya hanya mendistribusikan 1 kwintal lebih per harinya. Saat sekarang dengan adanya KLB, pengepul itu hanya mendistribusikan komoditi strawberry di bawah 50 kg per harinya. Kini langsung mati kutu.
“Jelas sekali dengan adanya kejadian luar biasa yang menimpa tananaman strawberry yang mati serempak mengenaskan itu, berdampak membekunya perekonomian di wilayah Desa Barudua, dan tetangga desa yang menginduk ke desa kami, yaitu Desa Cinagara, Sanding, Karangmulya, Girimakmur, Cikarag dan Kadipaten(Tasik Malaya). Saat ini masyarakatnya telah kehilangan mata pencaharian. Bahkan sebagian masyarakatnya demi mempertahankan dapur ngebul, sudah mulai urbanisasi lagi untuk mencari pekerjaan ke kota-kota,” ujarnya.
Saat itu, terkait dengan adanya KLB yang merusak tanaman strawberry, Kades Barudua tidak tinggal diam. Ia langsung membawa sempel strawberry yang mati ke BP3K untuk dicek ke labotorium, dan melaporkan kepada dinas terkait di Kabupten Garut, serta menyemaikan kembali benih strawberry di lokasi baru agar tanaman itu tidah punah begitu saja di wilah desanya. Sebab, hanya tanaman tersebut setiap harinya yang sudah bisa dirasakan menolong ketahanan pangan seluruh masyarakat, khususnya di wilayah Desa Barudua.
“Sehubungan dengan adanya KLB menimpa tanaman strawberry yang mengenaskan, saya atas nama warga Desa Barudua, mengharapkan kepada Pemerintah, supaya senantiasa mencarikan solusinya. Sebab tanpa adanya campur tangan dari pemerintah, sulit sekali memulihkan kembali perekonomian masyarakat. Maksimalnya pemerintah harus memasok permodalan budidaya strawberry, atau minimalnya dari pemerintah memberikan bantuan untuk pembibitannya, atau lebih jauhnya, bila satu saat terjadi kerawanan pangan, pemerintah sudah jauh-jauh hari mengantisifasinya,” tegas Kades Barudua.
Berbagai upayapun telah kami lakukan, ungkap Endang, bahkan untuk menanggulangi masalah KLB yang melanda tanaman holibert strawberry, kami menghadirkan profesor dari Negara Jepang. Namun tanaman jenis tersebut, hingga saat ini tetap terserang penyakit.
“Intinya masa keemasan tanaman strawberry di Desa Barudua, kini hanya tinggal memory saja,” pungkas Kades Barudua, Endang Yana.
✦ Tanya AI